Senin, 12 Januari 2009

SUKA DENGAN LAGU?.....BISA GAK YA..............

BELAJAR MENYUKAI LAGU
oleh: Jubing Kristianto
-------------------
"Pernahkah anda tidak suka pada suatu lagu gitar? Jika pernah, apakah sebaiknya lagu itu ditinggalkan saja atau justru harus kita pelajar? Kalau saya tinggalkan, saya takut kemampuan saya tidak bisa berkembang. Tapi jika saya paksakan melatihnya, malah stres! Padahal tujuan kita belajar main musik, kan ingin enjoy. Bagaimana sebaiknya?"
-------------
Begitulah pertanyaan yang pernah saya terima dari seorang teman. Pernahkah saya tidak suka pada suatu lagu? Jelas pernah. Bagi saya pribadi, jika saat memainkan sebuah musik tidak bisa menikmati, tentu tidak perlu memaksakan diri untuk harus memainkannya. Saya setuju dengan pendapat Anda, main musik harus enjoy. Andai saja kita selamanya boleh bebas memilih mana yang mau kita mainkan dan mana yang kita emoh memainkan, alangkah senangnya. Namun seperti juga kehidupan, ada kalanya situasi yang kita hadapi tidak semudah itu.
Begini. Dalam perjalanan kita belajar bermain gitar tentu ada langkah atau tahapan yang mesti kita lalui. Sebagai siswa, sudah tentu kita akan dihadapkan pada tuntutan untuk melatih teknik-teknik tertentu. Dalam pengajaran bermain musik, ada lagu-lagu yang diciptakan komposer untuk tujuan itu, atau yang dikenal sebagai etude/study. Untuk meningkatkan kemampuan teknik bermain, latihan maupun etude tertentu mesti kita kuasai. Setahap demi setahap. Suka atau tidak suka.
Situasi serupa terjadi jika kita hendak mengikuti ujian atau audisi. Suka atau tidak suka, ada lagu-lagu tertentu yang wajib kita mainkan dengan baik. Termasuk lagi-laguyang menurut kita kurang enak dinikmati. Dalam kegiatan saya sebagai gitaris pun hal serupa bisa terjadi. Misalnya, saat diundang main dalam sebuah perkawinan atau hajatan lain, pihak panitia menyodorkan list lagu yang mesti dibawakan. Jelas, tidak semua lagu itu saya suka. Tapi karena namanya bagian dari pekerjaan, saya harus memainkannya demi kelancaran acara.
Sekalipun Anda hanya ingin bisa bermain gitar untuk kepuasan pribadi atau asal bisa, tetap saja Anda memerlukan keterampilan teknik tertentu. Dalam upaya pencapaian kemampuan ini tetap saja kita mesti berlatih. Dan ada kalanya bahan latihan tidak senantiasa musik yang sesuai selera kita.
***
Ya, selera musik pun sama seperti selera makanan. Mungkin ada di antara kita yang hanya suka jenis masakan tertentu. Si A misalnya, gemar masakan Padang tapi tidak suka masakan Italia. Sebaliknya, si B senang makan pizza dan kehilangan selera makan saat berhadapan dengan rendang. Menurut saya, selera tidak bisa dipaksakan. Hanya saja, agar lebih absah penentuan soal selera ini, haruslah didasari pengalaman yang nyata. Maksud saya, janganlah kita menyatakan tidak suka masakan India, misalnya, jika kita belum pernah mencobanya. Bla Anda sudah coba beberapa jenis masakan India, dan ternyata memang tetap sulit menyukainya, tentu Anda boleh menegaskan: saya tidak suka masakan India. Masuk akal bukan? Bagaimana Anda bisa bilang suka atau tidak suka jika tidak pernah mencobanya?
Dalam bermain musik pun demikian halnya. Hindari buru-buru mengklaim tidak suka pada lagu ini atau pada jenis musik itu, jika Anda belum pernah mendengar atau mencobanya. Jika tujuan Anda adalah ingin menjadi pengajar gitar atau gitaris, saya sarankan untuk mencoba mendengar dan memainkan berbagai jenis lagu dan musik. Perkara apakah Anda suka atau tidak suka, itu bukan hal utama. Yang lebih penting adalah, Anda sudah pernah mencobanya dan mendapatkan pengetahuan tentang hal itu. Ini berguna jika nanti Anda menghadapi murid atau audiens.
Selera pun sebetulnya sangat bergantung pada kebiasaan atau kelaziman. Makanan tertentu yang dianggap lezat di suatu tempat, belum tentu demikian di kawasan lainnya. Ambil contoh, kita menganggap kodok goreng dan soto jeroan sapi sebagai masakan lezat. Namun bagi oarang-orang Eropa, kodok dan jeroan sapi dianggap menjijikkan. Hanya cocok untuk makanan hewan. Di Jepang, ikan dimakan hidup-hidup saat masih bergerak-gerak. Di Indonesia, hal demikian tentu tidak lazim. Saya sendiri, misalnya tetap tidak bisa mengerti kenapa orang suka sashimi alias ikan mentah.
Musik juga begitu. Selera kita terhadap musik juga dipengaruhi oleh kebiasaan kita mendengar musik. Ada yang kurang bisa menikmati musik gamelan, misalnya, karena memang tidak biasa mendengar sebelumnya. Lain halnya orang yang sejak kecil dibesarkan dengan sering mendengar gending dan gamelan, dia akan merasa nikmat mendengarnya.
Komposer besar Rusia, Igor Stravinsky (1882 - 1971) menuai caci maki dahsyat dari penonton dan kritikus musik saat pementasan perdana karyanya "The Rite of Springs" tahun 1913. Pasalnya, Stravinsky menyuguhkan harmoni dan ritme yang pada masa itu dianggap sebagai "kacau-balau" dan "menyakiti telinga". Namun, seiring waktu dan semakin seringnya karya ini dipentaskan, publik mulai bisa menerima. Bahkan kini "The Rite of Spring" diakui sebagai salah satu mahakarya Stravinsky dan menjadi repertoar standar di gedung-gedung konser.

***
Masih terkait soal kebiasaan, saya juga punya pengalaman. Sewaktu masih baru belajar gitar, saya membeli kaset "Concerto for Guitar and Small Orchestra" karya Heitor Villa-Lobos (1887 - 1959). Gitarisnya adalah John Williams. Pertama kali saya mendengar, pusing saya. "Musik apa ini? Kok nggak ada enaknya sama sekali?" begitu protes saya. Kenapa demikian? Karena sebelumnya saya hanya terbiasa mendengar lagu-lagu pop. Musik klasik yang saya dengar, seingat saya hanya dari era Barok dan Klasik.
Namun setelah mendengar komposisi itu berkali-kali, saya mulai merasa bisa menikmatinya. Bahkan lambat-laun mulai bisa merasakan keindahannya. Jadi, faktor biasa atau tidaknya kita mendengar bisa memengaruhi suka atau tidaknya kita pada satu lagu.
Contoh lain, pernah saat hendak mengikuti ujian gitar, saya harus memainkan lagu "Nocturno" karya Federico M. Torroba. Pertama kali saya mendengar lagu ini, saya kurang menyukainya. Harmoni-nya memang kurang lazim di telinga saya. Namun setelah berlatih memainkan lagu itu (hingga ratusan kali mungkin!) saya mulai menyukainya dan menemukan keindahannya.
Satu hal lagi, pengetahuan teori musik dan pemahaman latar belakang lagu berperan pula dalam menentukan rasa suka kita. Kita akan lebih mudah menikmati dan mengapresiasi sebuah musik jika kita tahu seluk-beluk riwayat penciptaannya. Termasuk pula riwayat sang komposer.
Pengetahuan teori musik juga memudahkan kita menemukan keunikan dan kelebihan sebuah komposisi. Dalam karya Torroba tadi, misalnya, saya bisa mengagumi ada gerakan arpegio dan chord yang dibangun dari tangga nada whole-tone. Andai saja saya tidak pernah mengenal tangga nada whole-tone, mungkin kekaguman itu tidak penah muncul.
Karena itu, bisa saya simpulkan, rasa suka terhadap musik tertentu bisa dibentuk. Untuk membentuknya, diperlukan ada dua faktor utama. Yakni kebiasaan mendengar serta pengetahuan musik dan pemahaman latar belakang musik. Salah satu faktor saja sudah cukup untuk menumbuhkan rasa suka kita.
Nah, bila kita nanti mendapati lagu yang tidak kita sukai namun harus kita mainkan, cobalah untuk mendengarkannya dulu berkali-kali (bisa dari CD gitaris lain, atau minta teman/guru yang sudah bisa memainkan). Biasakan telinga kita dengan lagu itu. Jika belum juga muncul rasa suka, coba analisa bentuk dan strukturnya. Adakah yang unik? Coba mainkan melodinya saja. Coba pula mainkan bagian iringannya saja. Nyanyikan melodinya. Cari tahu pula riwayat penciptaannya dan penciptanya. Tak kenal, maka tak sayang.
Bila semua itu sudah Anda lakukan dan masih saja Anda sebel pada lagu itu? Tinggalkan saja. Mungkin suatu saat jika Anda mencobanya lagi Anda bisa menemukan kenikmatannya. Namun jika lagu itu harus dimainkan untuk mengasah teknik, ujian, audisi, atau kompetisi, ya apa boleh buat. Suka tidak suka Anda harus berlatih memainkannya. Tapi setidaknya permainan Anda akan lebih bagus karena Anda sudah sangat mengenal lagu itu.

Minggu, 04 Januari 2009

Seputar Piano

Belajar main piano

Beberapa hari ini, saya terlibat diskusi mengenai pendidikan piano dengan beberapa teman sesama pengajar piano dari ‘jenis aliran’ musik yang berbeda - klasik dan pop/jazz - selain juga menerima banyak email yang menanyakan hal seputar belajar piano.

Mengajar piano memang pekerjaan saya di hampir 10 tahun belakangan ini.
Meskipun bukan seorang master, tapi saya mencintai pekerjaan saya ini.
Dari seorang ‘ordinary housewife’ dengan latar belakang pendidikan akademis ilmu matematika, tiba-tiba harus terjun menjadi seorang educator di bidang musik membuat saya harus banyak belajar memperdalam pengetahuan musik, teknik bermain piano klasik, psikologi anak maupun paedagogy.

Bisa main piano saja memang tidak cukup untuk bisa mentransfer ilmu main piano.
Di sinilah tantangannya..
Mengajar piano ternyata tidak sesimpel menjelaskan ‘do re mi’ dan ‘tang ting tung’ di piano, tapi harus juga mengajarkan ‘logika membaca not’, bagaimana berekspresi, melatih keberanian, memotivasi, sampai mengajarkan disiplin.

Dalam sharing mengenai pengajaran piano dengan teman-teman..
Ternyata ada perbedaan persepsi antara saya dengan teman-teman sesama pengajar piano klasik mengenai pendidikan dasar piano.

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa mengajar murid di tingkat dasar itu justru sangat penting dan lebih sulit daripada murid di tingkat yang lebih tinggi karena memberikan fondasi. Jika salah memberikan fondasi, akan sangat sulit diperbaiki lagi.

Saya berpendapat bahwa, yang namanya belajar piano pada awalnya ya belajar piano, tidak bisa juga ‘dikotak-kotak’an antara belajar ‘piano klasik’, belajar ‘piano pop’, atau belajar ‘piano jazz’.

Imho, belajar piano ya belajar musik.
Belajar memainkan piano di sini adalah belajar ‘menguasai’ instrument piano.
Bagaimana cara membaca not balok dan menerjemahkannya ke dalam permainan piano.

Siapapun yang ingin belajar main piano seharusnya mendapat bekal pengetahuan yang cukup juga tentang teori harmony, tangganada dan chord. Selain yang paling penting juga tentu saja harus menguasai rhythm sebagai dasar bermusik.

Belajar piano klasik bukan berarti ‘tabu’ menggunakan chord, atau kalau belajar piano dengan menggunakan chord namanya jadi belajar piano pop..
Bahkan Bach, Mozart dan Beethoven pun menggunakan harmony, tangganada dan chord dalam musiknya.

Tidak ada metode khusus untuk ‘belajar piano klasik’, yang ada adalah metode untuk ‘belajar piano’. Klasik, Jazz, Rock atau Pop adalah jenis aliran musik.
Bentuk not balok yang dibaca ya sama saja.
Yang membedakan adalah feel’ dari jenis musik yang dimainkan.
Dan ‘feel’ yang berbeda bisa jadi memang membutuhkan teknik memainkan yang berbeda juga.

Tapi pada dasarnya, pelajaran dasar piano belum dapat dipisah2kan antara piano klasik, pop atau jazz. Begitu juga pendapat teman saya pengajar piano pop/jazz.

Itulah sebabnya, bisa jadi ada anak yang belajar ‘piano klasik’ selama bertahun-tahun, menjadi sangat terlatih untuk membaca partitur musik, tapi ternyata tidak bisa memainkan pianonya tanpa partitur. Menurut pengamatan saya, hal ini terjadi karena mereka tidak mendapat cukup bekal pengetahuan tentang teori harmony, tangganada dan progression chord sejak awal belajar. Padahal, seandainya pengetahuan ttg harmony diberikan sejak awal, dalam 2 atau 3 tahun belajar piano, anak-anak seharusnya sudah dapat memainkan berbagai ‘warna’ musik.

Memang, buat saya, mengajarkan dasar2 bermain piano bukanlah pekerjaan mudah.
Jujur, saya sering mendapat kesulitan kalau menerima murid pindahan, karena basicnya kurang kuat. Bahkan saya pernah menerima seorang murid yang sudah belajar piano selama 4 tahun, sudah bisa memainkan “Fur Elise” luar kepala, tapi ternyata tidak bisa membaca not sama sekali…:(

Ada pertanyaan yang sering sekali diajukan pada saya :

Pada umur berapakah anak sudah bisa mulai belajar main piano ?

Sebenarnya, pengenalan musik sendiri sebaiknya diberikan jauh sebelum anak mulai belajar memainkan instrument musik. Bahkan dapat dimulai sejak dalam kandungan.
Sering mendengarkan musik apapun juga dapat meningkatkan musikalitas anak.
Mendengarkan musik sambil bertepuk tangan, menari atau menyanyi pun sudah dapat dikatakan mengenalkan musik pada anak.

Tapi umur paling ideal untuk mulai belajar memainkan instrument musik khususnya piano adalah umur 5 tahun. Di umur ini anak secara fisik sudah punya jari-jari yang cukup kuat untuk memencet tuts2 piano, dan biasanya sudah mengenal abjad dan menghitung.

Tapi pada dasarnya, tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar musik.
Belajar piano bisa dimulai dari umur berapa saja, usia dewasa sekalipun. Meskipun mungkin kalau belajar piano nya dimulai di usia dewasa jari-jari memang sudah tidak selincah anak-anak ya..;-)

Bagaimana kalau ingin belajar main piano, tapi tidak punya piano ?

Yaaaa...
saya seringkali menyarankan, coba belajar saja dulu, sambil melihat minatnya.
Biasanya, kalau memang berminat, murid-murid saya akan minta dibelikan piano.
Jadi kalau bisa sih, pada waktu anak mulai belajar piano, orangtua sebaiknya sudah bersiap-siap nabung untuk beli piano...gitu...

Skill itu sesuatu yang sangat berharga lho..